Senin, 30 September 2019

4 Mitos yang Masih Dipercaya tentang Mendisiplinkan Anak

| Senin, 30 September 2019
Senin, 30 September 2019 17:14:03

4 Mitos yang Masih Dipercaya tentang Mendisiplinkan Anak

Melatih anak agar terbiasa hidup disiplin memang salah satu hal penting yang perlu dilakukan orang tua, juga para guru di sekolah. Sayangnya, demi mencapai tujuan tersebut, masih dilakukan cara-cara lama dan mungkin tak akan berbuah hasil yang diharapkan.

Benar saja, sebaliknya, si kecil justru berisiko tumbuh jadi anak yang pemberontak, Moms. Laman Fatherly mengungkap, 4 cara yang masih suka dilakukan orang tua dikategorikan sebagai mitos, apa saja?
1. Orang Tua yang Keras Membesarkan Anak yang Baik

Salah satu anggapan yang cukup populer ya, Moms. Cara ini mungkin akan membuat anak jadi menuruti perkataan Anda, tapi lebih karena takut, bukan karena mereka ingin melakukannya.

Selain itu melansir dari Psychology Today, sebuah makalah yang ditulis Elizabeth Gershoff, associate professor of Human Development di University of Texas-Austin, dan Andrew Grogan-Kaylor, associate professor of Social Work di University of Michigan, AS, kemudian yang diterbitkan Journal of Family Psychology menunjukkan, bahwa memukul bokong anak akan berpengaruh terhadap psikisnya. Misalnya anak menjadi lebih agresif, memiliki kecenderungan anti sosial, bahkan rentan menjadi pelaku kekerasan.

2. Kalau Mengatakan 'Ya' artinya Gagal

Tentu saja, menuruti kemauan anak alias dengan berkata 'ya' itu tak selalu berarti menggagalkan niat Anda, dalam mendisiplinkan anak. Justru terkadang dengan mengatakan 'ya', adalah salah satu strategi ampuh untuk menghindari konflik yang tidak perlu dengan anak. Orang tua pun kerap kali menggunakan cara tersebut dalam mencapai keinginannya. Anda bisa mengatakan seperti, 'Iya boleh, asal...', atau 'Iya tidak apa-apa, jika...', Pernah mencobanya, Moms?

3. Ketika Orang Tua Berteriak, Anak Lebih Memperhatikan

Ternyata itu cuma mitos lho, Moms. Ternyata cara yang terbaik agar anak mau mendengarkan Anda, yakni dengan cara mendekatkan diri dengannya, misalnya posisi dekat dan terjalin kontak mata, menciptakan ketenangan, serta bicara dari hati ke hati.

Pada ahli mengatakan, untuk membuat anak lebih tenang, Anda sebagai orang tua harus tenang dulu. Kalau Anda sendiri marah dan frustasi justru akan menimbulkan emosi negatif yang berpengaruh terhadap mental si kecil.

4. Jangan Bernegosiasi dengan Anak

Justru sebaliknya, Moms. Anda harus lebih banyak bernegosiasi dengan anak. Karena taktik ini dipercaya bisa membangun empati dan konektivitas dengan anak. Misalnya Anda harus membuat berbagai pilihan untuk dipilih oleh si kecil, namun orang tua tetap harus memegang kendali agar ia tidak memanipulasi Anda ya, Moms.

*Sumber: kumparan.com

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar